11 September 2026
18x dibaca
Siasati Belajar Daring, Guru SDIT WU Kembangkan Media Pembelajaran Interaktif (MPI)
Siasati Belajar Daring, Guru SDIT WU Kembangkan Media Pembelajaran Interaktif
Metro, 10 September 2026 -- Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memaksa sekolah di Lampung untuk menyesuaikan diri. Kegiatan Belajar Mengajar tatap muka harus ditunda. Namun di SDIT WU Metro, jeda ini tidak menjadi penghalang. Justru hari ini, para guru berkumpul, berdiskusi, dan kompak mendesain MPI - Media Pembelajaran Interaktif untuk dibagikan kepada siswa.
PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh kembali diberlakukan. Tapi PJJ kali ini berbeda.
MPI: Bukan Sekadar Kirim Tugas di Grup WA
Dulu, PJJ identik dengan penugasan dan video . Kini, guru-guru SDIT WU Metro membuat MPI.
MPI adalah media pembelajaran berbasis digital yang interaktif. Isinya bisa berupa kuis drag and drop, video animasi materi, simulasi percobaan sains, game edukasi, sampai LKPD digital yang bisa langsung dikerjakan dan dikumpulkan siswa.
"Anak-anak tidak hanya membaca materi. Mereka mengklik, menjawab, bereksperimen, dan dapat feedback langsung," ujar salah satu guru kelas.
MPI ini dibagikan ke grup kelas pagi ini dan langsung dikerjakan siswa dari rumah masing-masing.
Lantas, Apa Manfaat MPI di Tengah PJJ Ini?
Menjaga Keterlibatan Siswa
Belajar dari rumah rawan jenuh. Dengan MPI, siswa jadi lebih aktif. Ada unsur "bermain sambil belajar" sehingga motivasi tidak turun walau tidak ke sekolah.
2. Umpan Balik Instan
Begitu siswa mengerjakan soal di MPI, mereka langsung tahu benar atau salah. Guru juga langsung bisa melihat data: materi mana yang masih sulit dipahami 80% siswa.
3. Akses Fleksibel & Aman
Di tengah situasi abu vulkanik, siswa tetap bisa belajar tanpa harus keluar rumah. Materi bisa diakses kapan saja, diulang-ulang sampai paham.
Kaitannya dengan Pembelajaran Mendalam & Kurikulum Merdeka
Ini yang paling penting. MPI bukan sekadar "alat". Ia adalah wujud nyata dari 2 prinsip besar pendidikan kita saat ini.
1. Pembelajaran Mendalam / Deep Learning
Kurikulum kita menuntut 3 hal: Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan.
- Berkesadaran: MPI dirancang dengan konteks nyata. Contoh: materi IPA tentang gunung berapi dikaitkan langsung dengan fenomena Anak Gunung Krakatau hari ini. Anak jadi sadar dan peduli lingkungan.
- Bermakna: Siswa tidak menghafal. Mereka memecahkan masalah di dalam simulasi MPI. Otaknya diajak berpikir kritis dan memecahkan masalah.
- Menggembirakan: Ada unsur game, warna, suara. Belajar jadi tidak terasa berat.
2. Kurikulum Merdeka
Prinsip Kurikulum Merdeka adalah "Merdeka Belajar" dan berpusat pada siswa. MPI memberi kemerdekaan itu.
Siswa bisa belajar sesuai kecepatannya sendiri. Yang cepat bisa lanjut ke level berikutnya. Yang butuh diulang, bisa mengulang videonya. Guru berperan sebagai fasilitator yang memantau dari dashboard, bukan lagi satu-satunya sumber informasi.
Ini juga mendukung diferensiasi. Guru bisa mengirim MPI yang berbeda sesuai kebutuhan tiap anak.
Penutup: Musibah Jadi Momentum
Erupsi Anak Gunung Krakatau memang membawa dampak. Tapi ia juga jadi momentum bagi guru SDIT WU Metro untuk naik kelas. Dari guru yang mengajar, menjadi guru yang mendesain pengalaman belajar.
PJJ kali ini membuktikan: keterbatasan ruang tidak akan pernah membatasi semangat belajar. Dengan MPI, pembelajaran tetap berjalan, tetap dalam, dan tetap merdeka.
Karena pendidikan yang baik tidak berhenti saat abu turun. Ia justru menemukan cara baru untuk tetap menyala.
- Humas SDIT WU Metro -
Bagikan Artikel Ini: