Home » » Dampak Memberikan Hadiah Kepada Anak

Dampak Memberikan Hadiah Kepada Anak

Written By Sdit WAHDATUL UMMAH on Kamis, 01 September 2016 | 08.15


“Nanti Ayah belikan mobil-mobilan kalau pr-nya selesai” Hal seperti ini sudah terkesan akrab di sekeliling kita. Apakah ini tepat? Apakah benar anak menyelesaikan pr sesuai harapan kita? Atau hanya mengejar hadiah mobilnya saja?
Kali ini kita tidak membahas budaya memberi hadiah pada saat ulang tahun, tetapi yang akan kita bahas adalah hadiah sebagai pemicu perilaku baik atau disiplin yang sering disalahartikan. Dimana hadiah tersebut tidak membentuk perilaku baik, tetapi malah sebaliknya semakin merusak perilaku.
Di ranah pendidikan karakter, perilaku dibentuk dengan berbagai macam teknik dan pendekatan. Salah satunya dengan modifikasi perilaku yang menggunakan hadiah dan yang tidak menggunakan hadiah.
Hadiah menimbulkan rasa senang dan gembira, pertanyaan saya adalah bisakah rasa senang dan gembira dimunculkan tanpa hadiah? Bisa, dan ada banyak caranya. Banyak orangtua tidak memahami hal ini, atau bahkan berpikir mengenai hal ini. Memang, hadiah adalah cara yang paling mudah memunculkan akibat senang, dicintai, diperhatikan dan sejenisnya. Tapi jika ini diberikan terus, ada dampak bahayanya.
Apa saja 5 dampak buruk dari hadiah?
1. Hadiah biasanya dijanjikan sebelum perilaku yang diharapkan muncul
Hal ini sering digunakan mengontrol atau memanipulasi anak. Sehingga anak tidak memahami dengan baik alasan mengapa perilaku baik harus dibiasakan muncul, karena anak hanya terfokus pada hadiah. Lebih parah lagi apabila yang dijanjikan orangtua tidak ditepati, kadangkala hal ini justru dapat menyebabkan perilaku buruk anak semakin menjadi-jadi.
2. Hadiah sering dianggap global
Maksudnya, saat perilaku baik pada waktu tertentu saja anak dianggap baik. Bisa jadi pada lain kesempatan anak tidak lagi bersikap baik. Jika ingin sikap baik konsisten, maka hadiah juga konsisten (hal ini seringkali memberatkan), akibatnya kita mendidik anak yang hanya bisa menuntut.
3. Hadiah mengajarkan anak untuk fokus diluar dirinya
Hal ini menyebabkan anak kesulitan untuk memahami rasa, dan akibat dari perbuatan baik yang akan menyenangkan di hatinya. Orangtua perlu mendidik rasa dan emosi anak, seperti rasa bermakna, percaya diri, dan menghargai diri sendiri saat dia berhasil mencapai sesuatu yang baik.
4. Seringkali yang menentukan hadiah adalah orangtua
Hal ini menyebabkan ukuran keberhasilan perilaku sering tidak berimbang, hadiah terbaik hanya untuk perilaku yang sudah dia kuasai, atau sebaliknya. Sehingga level gradasi dalam pencapaian sering tumpang tindih.
5. Hadiah diberikan jika anak sukses dalam perilaku atau pencapaiannya
Seringkali anak butuh didampingi dalam proses mendapatkan perilaku yang baik, tetapi di generasi “microwave” ini semua ingin serba instant, dan yang terpenting adalah hasil. Sehingga secara tidak sadar hal ini mengajarkan anak memanipulasi orangtua, yang penting perilaku baik sudah muncul, dan anak akan mendapatkan hadiahnya.
Membahagiakan orang lain tidak selalu dengan hadiah, ada banyak cara. Mari kita belajar untuk mengetahui lebih dalam, bagaimana membentuk karakter anak tanpa hadiah.
Selain hadiah, kita bisa memberikan dukungan, dorongan yang positif bagi anak. Anak akan merasa bahagia dan dimengerti dengan diberikan dukungan. Mungkin ekspresi anak tidak seperti orang dewasa, mereka cenderung tenang dan diam, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ada perasaan tenang dan nyaman dengan diberinya perlakuan ini.
Seperti bayi yang di belai lembut oleh ibunya, atau digendong, ekspresi wajahnya akan mudah terbaca kalau dia merasa nyaman. Seperti itulah ekspresi wajah anak saat merasa tenang dan nyaman dengan dukungan anda. Lebih tenang, tidak cemas, dan tidak merasa sendiri dalam berupaya yang terbaik bagi dirinya.
Berikut ini adalah keuntungan dari dukungan yang diberikan orangtua atau guru kepada anak
1. Spontan, langsung bisa terjadi saat itu juga
Dukungan akan mengekspresikan secara langsung perasaan dan kepercayaan orangtua kepada anak. Saat anak merasa dipercaya maka rasa percaya diri anak akan berkembang dalam dirinya. Saat orangtua memberikan dukungan, ekspresi terlihat jelas. Jika memberikan hadiah, ekspresi orangtua cenderung tidak terlihat, dan proses komunikasi akan jauh lebih sedikit.
2. Spesifik dan fokus
Anak akan tahu dengan jelas apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana caranya mencapai kemajuan yang diperlukan. Anak tidak perlu merasa frustasi untuk mencari-cari cara yang dapat meningkatkan perilaku baiknya, karena orangtua akan memberikan informasi tersebut dengan jelas dan detail.
3. Saat diberikan dukungan anak akan merasa nyaman secara emosi
Anak akan merasa diperhatikan, dicintai, dan dimengerti. Dukungan orangtua kepada anak adalah bentuk upaya untuk mengerahkan segenap kemampuan orangtua dalam bersikap, berkomunikasi, dan berempati terhadap anaknya agar menjadi pribadi yang terbaik.
4. Dukungan bisa diberikan kapan saja, bahkan saat situasi sulit
Saat situasi anak sedang terasa berat dan sulit, iming-iming hadiah mungkin tidak berguna. Tetapi sikap percaya orangtua kepada anak, dukungan, dan dorongan akan membuat anak bisa keluar dari hal-hal yang menyulitkan.
5. Banyak sedikitnya kualitas dukungan tergantung dari antusias anak
Saat anak berantusias maka sedikit dukungan yang diberikan, dan saat kurang berantusias maka perlu banyak dukungan dan motivasi untuk anak. Dalam memberikan dukungan, orangtua dapat mengingatkan agar anak mudah memberikan dukungan kepada dirinya sendiri, ajarkan anak untuk mendukung dirinya sendiri, dan berkata-kata dalam hati. Hal ini akan mempermudah anak untuk menjadi antusias secara otomatis
Semoga materi ini bermanfaat, dan membantu kita semua dalam membentuk generasi depan yang lebih baik.



Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Amar Fatkhalloh
Copyright © 2013. SDIT WAHDATUL UMMAH METRO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SDIT-WU Metro
Proudly powered by Tim IT SDIT Wahdatul Ummah Metro