Tujuan Pendidikan dalam Islam

Ilustrasi

Ayah Bunda para guru dan pembaca, berikut adalah tujuan pendidikan islam menurut beberapa pakar :
  1. Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik, ini terlalu umum.
  2. Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim, ini pun masih terlalu umum.
  3. Al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum.
  4. Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna, ini pun terlalu umum.
  5. Abdul fatah Jalal berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.

(Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, hal. 46, DR. Ahmad Tafsir, 1991, PT REMAJA ROSDA KARYA)
Sedangkan menurut Hasan Al Banna,
“ Kita menginginkan ilmu yang bermanfaat dan produktif; akal yang matang dan bersih dan pemikiran logika yang cermat. Kemudian, itu semua diperkuat dengan akhlak mulia dan jiwa yang bersih"

<!--[if gte mso 9]>
Yusuf Al-Qardhawi dalam Tarbiyah Islamiyah wa Madrasah Hasan Al-Banna manjelaskan 7 aspek yang harus disentuh pendidikan sesuai arahan Hasan Al Banna adalah sebagai berikut :
a.       Akal ( Aqliyah )
b.      Akhlak ( Akhlaqiyah )
c.       Jasmani ( Jasadiyah )
d.      Spiritual ( Ruhiyah )
e.       Jihad ( Jihadiyah )
f.       Sosial kemasyarakatan ( Ijtimaiyah ) 
g.   Politik ( Syiasiyah )
( Yusuf Al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, h. 39)
Dalam usaha melaksanakan dan mengukuhkan asas yang perlu dalam pembangunan modal manusia sebuah negara Islam. Seterusnya beliau turut menggariskan beberapa tanggungjawab atau kewajiban manusia yang menjadi sebagai teras kepada ajaran Islam yaitu sholat, zikir, taubat, istigfar, puasa, sederhana dan zuhud, zakat, sedekah dan memberi infak untuk kebajikan, berhaji, ziarah, silaturrahim, rihlah dan melihat alam ciptaan Allah. Mencari rezeki, bekerja dan mengharamkan perbuatan mengemis, jihad, berperang, mempersiapkan angkatan perang, menjaga keluarga para pejuang dan kepentingan mereka semasa ketiadaan mereka.
Menyuruh perkara yang baik dan memberi nasihat, mencegah perkara yang tidak baik. Membekali setiap lelaki dan wanita Islam dengan ilmu dan berbagai life skill yang sesuai dengan fitrah masing-masing. Bergaul dengan baik dan memilih teman yang akhlaknya baik. Menjaga kesehatan dan pancaindera. Tanggungjawab sosial antara memelihara rakyat dan kewajiban mentaati pemerintah 


 

Related Posts:

Pendidikan Spiritual bagi Anak

Ilustrasi

Manusia memiliki dua kebutuhan utama: kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Kebutuhan jasmani, antara lain, dipenuhi dengan asupan makanan dan minuman yang halal dan thayyib (bergizi, menyehatkan),  olahraga, dan tidur yang cukup.

Sedangkan kebutuhan ruhani dapat dipenuhi, antara lain, dengan pendidikan, informasi, dan hiburan. Manusia sehat adalah manusia yang mampu menyeimbangkan pemenuhan kedua kebutuhan tersebut.

Pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) termasuk 'nutrisi bergizi tinggi' yang sangat dibutuhkan oleh manusia sehat agar tidak menjauh dari hidayah Allah SWT dan hidupnya tidak mengalami disorientasi: cenderung materialis, sekuler, hedonis, dan sebagainya.

Pendidikan spiritual bertujuan menyehatkan hati dan pikiran, sehingga sikap dan perilakunya  menjadi mulia dan rabbani, bukan hewani dan syaithani (berkelakuan seperti hewan dan setan).

Allah adalah Rabbul ‘Alamin (Pendidik semesta raya, termasuk manusia). Esensi dari pendidikan spiritual adalah penanaman dan pencerahan manusia dengan meneladani sifat-sifat Allah. “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah” (HR Muslim).

Jika sifat-sifat Allah dalam al-Asma’ al-Husna  (Nama-nama Terbaik) diteladani, niscaya manusia akan mampu mengontrol karakter kebinatangannya menuju integritas pribadi yang luhur dan akhlak mulia.

Karena itu, tindak kekerasan dan pelecehan seksual, terutama di lembaga pendidikan, semestinya tidak pernah terjadi jika  manusia memiliki sifat al-Lathif (Maha Lembut), dan Ar-Rahman Ar-Rahim (Maha Pengasih Maha Penyayang).

Berbagai kasus malpraktik pendidikan, seperti kekerasan di lembaga pendidikan, lulusan Perguruan Tinggi yang kemudian banyak menjadi koruptor, semestinya dapat dieliminasi jika pendidikan spiritual efektif diinternalisasikan dalam siswa oleh pendidik yang berketeladanan moral yang luhur.

Pendidikan spiritual membekali siswa tidak hanya  kognisi keagamaan, tetapi juga afeksi,  apresiasi, dan aktualisasi  nilai-nilai moral dan spiritual dalam segala aspek kehidupan.

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pesan berdimensi pendidikan spiritual yang sangat operasional. Sabda beliau, “Tebarkan salam, berikan makan, sambungkan tali silaturrahim,  biasakan qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur, niscaya  engkau akan dimasukkan oleh Allah dalam surga-Nya, Darus Salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jika diterjemahkan dalam kehidupan nyata,  nilai pendidikan spiritual  dalam salam dapat diaktualisasikan dalam bentuk nilai-nilai perdamaian, seperti: tegur sapa, murah senyum, ramah, semangat memberi pelayanan yang prima, tidak sinis, tidak emosional, mudah mengulurkan tangan, dan sebagainya. 

Sementara itu 'memberi makan' dapat diwujudkan dalam sikap empati, solidaritas sosial, mau meringankan penderitaan orang lain, selalu berbagi, dan berusaha mencari solusi.

'Menyambung tali silaturrahim' dapat diaktualisasikan dalam bentuk: suka dan supel bergaul, berkomunikasi terbuka dan efektif, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerjasama, saling melindungi, dan sebagainya.

Sedangkan 'qiyamul lail' sebagai bentuk spiritualisasi diri  dapat diterjemahkan dalam perilaku yang selalu zikir  kepada Allah, istiqamah dalam beribadah, tekun berdoa, ikhlas beramal, sabar dalam menghadapi cobaan hidup, dan sebagainya.

Idealnya pendidikan spiritual menjadi ruh (semangat, jiwa) dari sistem pendidikan nasional agar lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita tetap memiliki hati dan pikiran yang sehat dan cerdas.

Pendidikan spiritual merupakan benteng penangkal kapitalisasi dan sekularisasi pendidikan, termasuk 'antivirus' perilaku korup.

Pendidikan spiritual juga harus terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan kurikulum pendidikan kita, sehingga semua pendidik, tenaga kependidikan, guru, pimpinan lembaga pendidikan, selalu menampilkan kepribadian dan keteladanan yang terbaik (uswah hasanah).

Pendidikan dengan keteladanan (at-tarbiyah bil uswah) merupakan prototipe atau model pendidikan yang paling ideal untuk masa depan bangsa kita. Pendidikan spiritual sudah semestinya menjiwai seluruh manajemen dan penyelenggaraan pendidikan di tanah air.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/03/27/mkb6ak-pendidikan-spiritual?fb_comment_id=563187293701519_6308790

Related Posts:

Daftar Pembagian Kelas TP.2016-2017

Perkemahan Jumat Sabtu Ahad Pramuka SIT SDIT WU

Berikut ini adalah daftar pembagian kelas tahun ajaran 2016-2017. Untuk melihat penuh, silahkan KLIK pada tombol SHOW. untuk menyembunyikan lagi KLIK HIDE

KELAS I

Click for View




KELAS 2

Click for View

KELAS 3

Click for View




KELAS 4


Click for View




KELAS 5

Click for View




KELAS 6

 
Click for View



Related Posts: