Perjusami : Membuat Perapian

Dalam berkemah salah satu yang paling penting adalah adanya perapian. Dengan adanya api, kita dapat memasak makanan, membakarnya, memasak air dan melindungi diri dari panas dan ancaman binatang buas.
Kali ini, adik-adik pramuka belajar membuat perapian. Dengan mengumpulkan pemicunya berupa dedaunan kering, rerumputan kering, ranting kecil, cabang-cabang kayu dan kayu-kayu besar.







Related Posts:

Perjusami : Menjadi Generasi Sholahudin Al Ayyubi

Mencari Bahan untuk Perapian

Jumat, 13 Mei 2016 pukul 13.00
Hari itu, suasana sekolah ramai sekali oleh hiilir mudik anggota pramuka dengan seragam lengkap. Baret coklat berbalut lasduk merah putih di leher, sepatu hitam dengan tali putih menggantung di pinggang kirinya. Tas ransel lengkap isinya dan tongkat hitam 160 cm di tangannya.
Beberapa mobil angkutan kota siap menanti mereka di jalan depan SDIT Wahdatul Ummah Metro. Satu persatu memasuki mobil itu setelah dipanggili namanya satu persatu oleh kakak pembina. Tentunya semua perlengkapan pribadi dan regu sudah fix semua.
Itulah pemandangan yang terlihat saat Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka SIT pangkalan SDIT Wahdatul Ummah Metro menggelar Perkemahan Ukhuwah Jumat Satu Minggu ( Perjusami) mulai tanggal 13 - 15 Mei 2016 di BBI Hortikultura Pekalongan Lampung Timur dengan diikuti 200 peserta didik yang terdiri dari anggota penggalang putra 110 anak dan 90 putri.
Kegiatan dengan mengambil tema " Menjadi Generasi Sholahudin Al Ayyubi Sang Pembebas Al Aqsha ini digelar sebagai salah satu sarana melatih anggota pramuka agar hidup mandiri. Kegiatan ini ditekankan pada pembentukan karakter Mandiri, bertanggungjawab, kebersamaan, ukhuwah, disiplin dan survive. Hanya saja, survival yang dilakukan adalah mereka tidak makan makanan yang berasal dari nasi dan lauk pauknya namun mereka makan umbi-umbian dan menghemat air minum. Meskipun demikian mereka juga tetap mendapat asupan makanan nasi 2 kali, sisanya mereka makan umbian dan jagung serta pisang rebus. Bahkan malam terakhir, mereka membakar jagung sendiri sepuasnya.
Kegiatan yang diakhiri dengan kegiatan outbound ukhuwah dan mencari jejak ini alhamdulillah semua peserta mengikutinya dengan senang hati hanya 2 anak saja yang pulang karena dijemput orang tuanya.
Berikut kegiatannya :


Click for View

Related Posts:

Pahami Setiap Rasa Laparnya

Ilustrasi : Lapar
by : Bunda Yoga Miarti

Dear Ayah Bunda.. Rindu rasanya untuk kembali berbagi. Berbagi inspirasi pengasuhan, berbagi rasa tentang bagaimana menghadapi makhluk unik bernama anak.
Ayah Bunda yang berbahagia… Bagian dari fitrah manusia adalah memiliki rasa lapar. Dan rasa tersebut tak terbatas pada makan atau minum atau sesuatu yang mengenyangkan perut. Melainkan lapar pada banyak hal. Lapar berbelanja, lapar bertetangga, lapar berkatualisasi, lapar wawasan, dan lain-lain.
Pun dengan anak-anak. Tak terkecuali anak siapapun dan anak dengan bakat apapun, semua memiliki rasa lapar, yang pada saat-saat terentu bisa membuncah. Lapar berteman, lapar bermain di luar, lapar menyampaikan cerita, lapar untuk berlama-lama di rumah nenek kakek, lapar terhadap pengakuan orang dewasa, lapar berkarya, menjadi sesuatu yang tak terbendung bagi setiap anak tanpa kecuali. Masalahnya, kadang-kadang kita mencermati rasa lapar mereka tak seperti lapar makan. Padahal kebutuhan mereka itu banyak. Dan menjadi sakit bila salah satunya tak tercukupi. Apalah lagi jika seringkali dibatasi.
Pembatasan terhadap aktivitas anak tentu bukan tanpa alasan. Banyak diantara para orangtua yang melakukan pembatasan atau larangan karena alasan khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Khawatir celaka, salahsatunya. Atau bisa jadi karena khawatir kotor, khawatir mengganggu, khawatir menimbulkan kerusakan, dan lain-lain. Bahkan masih banyak oragtua yang kekhawatirannya cenderung berlebihan. Misalnya, khawatir rumah jadi berantakan, khawatir ruang tamu jadi tak menentu, khawatir interior rumah jadi tak jelas, khawatir dinding tembok rumah jadi kotor dan tak sedap dilihat, dan atau sejenisnya.
Pembatasan terhadap minat atau keinginan atau rasa lapar anak bisa wajar dan masuk akal jika daisampaikan secara bijak dan logis, baik menurut anak maupun menurut orang dewasa. Yang berbahaya adalah ketika pembatasan itu sudah sangat berlebihan dan mengekang antusiasme mereka. Contoh sederhana, ketika anak sedang asyik menggunting kertas sampai berceceran dan memenuhi karpet serta membuat ruangan jadi kurang rapi, kemudian kita langsung reaktif alias mengingatkan mereka dengan nada suara yang menghentak akibat merasa tak rela dengan kondisi ruangan yang tidak semanis ketika baru dirapikan. Barangkali inilah contoh kekhawatiran yang kurang masuk akal. Pasalnya, anak itu selalu bergerak dan cepat bosan, sehingga ia lakukan apap saja untuk mengobati rasa jenuhnya dan untuk memuaskan rasa penasarannya. Selanjutnya, karena urusan gunting menggunting itu bagian dari konsep berkarya bagi setiap anak, maka memberikan ruang dan fasilitas kepadanya adalah hal sangat bijak bagi para orangtua. Dan satu kunci yang penting untuk kita pegang adalah bahwa setiap anak akan sangat bersedia diminta komitmen. Artinya, supaya mereka tetap memiliki tanggung jawab atas resiko yang muncul dari setiap aktivitasnya, maka berikanlah rules (aturan) atau perjanjian supaya mereka merapikan kembali barang atau tempat dimana dia melakukan kegiatan. InsyaAllah, anak tak akan merasa berat melakukan hal yang satu ini, apalagi jika sudah refleks alias sudah terbiasa.
Masih tentang rasa lapar pada anak-anak. Selain ingin menggunting, mencoret-coret, bermain pasir, mereka juga sangat penasaran dengan apa yang disebut dengan “main ke rumah teman”. Mini kehidupan bermasyarakat yang demikian memang tak terelakkan, kecuali bagi anak-anak tertentu yang cenderung lebih pendiam dan lebih memilih main di rumah. Bagi kebanyakan anak, ada perasaan puas ketika mereka asyik bermain di rumah teman. Selain merasakan suasana yang berbeda dengan keadaan di rumahnya sendiri, mereka juga senang mencerna detail keunikan di rumah teman yang tidak ada atau tidak terdapat di rumahnya sendiri.
Bagi beberapa orangtua, ada yang dengan sangat ketat melarang hal ini kepada putra putrinya. Ada yang melarang keras untuk menyambangi rumah teman, atau ada juga yang melarang keras agar tak mengajak atau membawa teman main ke rumah. Padahal, ini adalah bagian dari kebutuhan seorang anak. Mungkin kita tidak merasakan dampaknya sekarang. Tetapi di kemudian hari atau ketika anak-anak kita sudah dewasa, bisa jadi akan memiliki sifat individualisme alias kurang memiliki perhatian terhdap sesama rekan atau sesama tetangga. Padahal, berbagai hal teknis bisa disiasati. Sebagai orangtua cerdas, kita bisa mengkomunikasikan aturan pada anak. Misalnya dengan aturan waktu, dimana main di rumah teman atau sebaliknya tidak perlu lama-lama. Atau bisa juga dengan menggunakan aturan main, dimana anak-anak kita diingatkan dari awal bahwa ketika bermain di rumah teman harus menjaga sikap, tidak membuat keributan, tidak merusak, dan tidak melakukan hal sekehendak alias tanpa meminta izin.
Ayah Bunda.. Jika dirunut satu per satu, banyak sekali rasa lapar yang dimiliki setiap anak. Bahkan untuk anak dengan tipe kecerdasan tertentu, ada yang secara refleks menggambar setiap hari. Dan saking asyiknya dia melakukan hal tersebut, maka menggambar bukan lagi menjadi hobi melainkan kebutuhan. Karena ini terkait dengan kepuasan. Artinya, dia merasa puas ketika sudah menumpahkan coretan diatas kertas. Maka setiap hari dia membutuhkan kertas dalam jumlah yang tidak sedikit alias berlembar-lembar kertas bisa dia habiskan dalam setiap harinya. Sebagai orang tua yang berpikiran positif, tentu akan mencermati hal ini sebagai sebuah kemistri, dimana minat dan kelebihan sang buah hatinya ada pada dunia menggambar. Maka untuk memenuhi lapar menggambar sag anak, tentu perlu bersedia menerima kelebihannya serta menyiapkan fasilitas pendukung. Karena dari kepahaman kita akan kelebihan anak, dari keberterimaan kita pada keunikannya, itulah yang kemudian membentuk bonding atau suatu ikatan dimana mereka memiliki bekal berharga bernama “rasa percaya diri”.
Ayah Bunda yang budiman. Mungkin tak akan ada habisnya ketika membahas topik terkait rasa lapar pada anak. Tetapi keterbatasan ruanglah yang membuat saya menyudahi tuisan pengasuhan pada edisi kali ini. Yuk lebih bijak memenuhi semua lapar anak. Pahami setiap detail minatnya, cermati ekspektasinya, dan telusuri arah impiannya. Setiap mereka punya angan yang tak bisa diseragamkan antara satu sama lain. Maka berikan mereka ruang, berikan mereka jalan, berikan mereka waktu, sehingga setiap rasa laparnya terpenuhi dan terpuaskan. Namun sebuah pengecualian penting untuk kita ingat, yakni pengabulan yang berlebihan. Karena yang demikian hanyalah menjadi pembuka pintu manja selebar-lebarnya. Dan pengabulan yang berlebihan hanyalah pemanjaan yang akan menghadirkan beragam ketakberdayaan.
Semoga Ayah tetap bahagia dan tentram membesarkan mereka. Salam sayang untuk Ananda. Semoga semakin hari semakin arif.
Alloohu ‘alam bish showaab. Semoga bermanfaat.
http://www.al-intima.com/tarbiyatul-aulad/pahami-setiap-rasa-laparnya

Related Posts:

Dampak Negatif TV


Dampak negatif dari televisi bagi anak. Hindarkan Anak Dari Tayangan TV Tidak Mendidik! #NoTVnoCry --Pendidikan keorangtuaan (parenting education) kali ini menehimbau orang tua agar mengawasi anak mereka dari tayangan televisi yang tidak mendidik dan tidak bermutu.

Hindarkan Anak Dari Bahaya Televisi --Kekerasan sudah menjadi menu harian di televisi di ruang keluarga kita. Mulai dari berita tindakan anarkis para demonstran hingga acara kriminal, tayangan film-film asing pun tidak lepas dari adegan baku hantam yang mereka sebut dengan film action.

Tayangan ini Berbahaya bagi anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan. Kecenderungan meniru dari lingkungan bila tidak dibarengi arahan dari orang tua bisa mengakibatkan hal yang fatal. Apalagi lingkungan yang paling akrab bagi anak adalah televisi.

Bagaimana media dapat memberikan efek yang sangat buruk dari tayangan kekerasan kepada pemirsana, setidaknya ada tiga penjelasan yang menarik berikut;
  1. Media memudahkan orang untuk mempelajari cara-cara baru kekerasan yang kemungkinan besar tidak terpikirkan sebelumnya. Kekerasan dalam film yang bersifat fiksi maupun yang nyata ditayangkan oleh media kemudian ditiru oleh orang lain di tempat lain dengan harapan akan mendapatkan hasil yang serupa.
  2. Berkurang atau hilangnya kepekaan terhadap kekerasan itu sendiri. Sebuah studi menunjukkan, akibat dari banyaknya menonton tayangan kekerasan, orang tidak lagi mudah merasakan penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang lain (Baron, 1974 dalam Baron & Byrne,2000).
TV Berbahaya atau Berguna ?
Saat ini begitu banyak ragam program dan tayangan di televisi. Dampak dan akibat yang diakibatkan setelah menonton tayangannya punya efek yang besar bagi setiap audience. Terutama bagi anak-anak yang merupakan peniru ulung. Untuk itu selektif dalam memilih tayangan televisi akan membantu anak terhindar dari perilaku agresif.

Televisi hanyalah sebuah kotak ajaib yang bisa dimatikan atau dibuang, bisa sebagai sumber malapetaka atau sumber pengetahuan. Kendali utama mestinya tetap pada pencipta televisi, yakni manusia. Masyarakat dan para orang tua wajib untuk mampu mandiri dalam menilai, menyaring serta proaktif terhadap tayangan di televisi.
Kepekaan itu harus diciptakan, jangan sampai kelak generasi muda menjadi tidak sensitif terhadap kekerasan hingga menjadi bangsa Bar-Bar. Semua kalangan termasuk kalangan perguruan tinggi, asosiasi sosial dan kelompok masyarakat lain di samping individu yang berdiri sendiri.

Banyaknya bukti dampak tayangan kekerasan hendaknya menjadi informasi tambahan untuk mengkaji ulang perilaku kita dalam menonton televisi. Sudahkah kita menjadikan televisi sebagai pilihan di antara banyak pilihan aktivitas positif lain dalam melepas kepenatan, atau televisi yang menguasai setiap detik kehidupan kita?


Bagi Para Pendidik atau Guru Kita Lihat Gambat Berikut:
Pesan dari gambar diatas: Stop tayangan TV yang merusak dan tidak mendidik anak/generasi bangsa ini. Tapi buat pendidik jangan jadikan perbandingan ini sebagai pengurang semangat dan motivasi dalam mnjalankan amanah sebagai pendidik. Guru tak bisa dibandingkan dengan artis dan memang tidak sebanding. Guru adalah profesi mulia dan istimewa. Para guru yang mulia, anda adalah pelita bagi anak didik anda.
Sumber :

Related Posts:

AWAS : TELEVISI

Ilustrasi

Penting mendidik anak agar tak gegabah meniru perilaku dalam tayangan layar kaca.

Fakta Program Televisi dari data yang dikumpulkan Michigan University, Amerika:
  • 2/3 dari semua program televisi di Amerika memuat kekerasan.
  • Program yang didesain untuk anak mengandung lebih banyak kekerasan daripada program untuk orang dewasa. Misalnya film-film kartun.
  • Kerapnya tokoh baik memukul tokoh jahat dapat memberi pesan salah pada anak bahwa memukul seseorang boleh-boleh saja.
  • Banyak adegan kekerasan, bahkan kematian yang dibawakan dengan cara humor sehingga tak lagi membuat anak takut atau merasa bersalah akan konsekuensi jika ia melakukan hal yang sama.
  • American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua sebaiknya membaca jadwal dan review acara televisi terlebih dahulu sebelum anak menonton satu program acara. Sempatkan pula bicara dengan guru dan dokter anak untuk tahu  apa rekomendasi mereka
Awasi Tontonan Anak!
  • Buat aturan menonton TV yang disetujui bersama. Misalnya dilarang menyalakan TV saat makan malam bersama, atau saat orang tua tak bisa mengawasi.
  • Batasi waktu menonton TV, yaitu satu jam pada hari biasa dan 2 hingga 3 jam di akhir minggu.
  • Jangan gunakan menonton TV sebagai hadiah atau hukuman karena  dapat membuat TV semakin tinggi nilainya di mata anak.
  • Sebisa mungkin dampingi anak saat menonton sehingga Anda dapat langsung meluruskan pendapatnya yang tidak tepat.  
Pilih Tontonan Yang:
  • Mengandung nilai-nilai positif, misalnya mau berbagi, rajin  santun dan sayang sesama
  • Sesuai minat anak.
  • Merangsang keingintahuan balita, sehingga dapat menjadi ajang diskusi.
  • Membantunya belajar kata-kata atau bahasa.
  • Membuat anak senang.
  • Mengembangkan minat anak pada aktivitas lain seperti membaca, hobi dan kegiatan luar ruang.
Melunturkan “TV Mania”
  • Alihkan perhatian dengan memperbanyak kegiatan yang melibatkan interaksi antara Anda dan anak dengan cara-cara seru, di antaranya dengan membacakan buku cerita. Terlalu sering menonton TV mengurangi ketertarikan balita pada buku.
  • Kurangi jam menonton TV secara perlahan namun pasti.
  • Selingi kegiatan pasif, misalnya membaca buku, menonton TV dengan kegiatan aktif yang mengasyikkan, seperti bersepeda, berolahraga dan lainnya.
  • Aturan menonton TV tidak akan berhasil jika orang tua tak bisa menahan diri untuk tidak menonton TV di depan anak-anak.
  • Penting mengantisipasi sebagai berjaga-jaga. Amankan daerah bermain si kecil dari benda-benda berbahaya, misalnya hiasan rumah yang berat sehingga dapat melukai anak atau kunci jendela apartemen jika tinggal di apartemen.
Hanyut Dalam Kekerasan?
  • Bila perilaku balita membahayakan diri sendiri atau temannya, orangtua perlu tegas. Atur emosi dan dengan tenang ingatkan aturan yang ditetapkan bersama di rumah. Misalnya, ”Stop!  Bukankah aturannya tidak boleh ada yang menyakiti orang lain atau merusak barang di rumah ini?”
  •  Jika ia sudah memukul, fokuskan perhatian Anda pada korban dengan mencoba menyuarakan apa yang dirasakan si korban. Misalnya, “Aduh, pasti sakit ya dipukul.” Cara ini akan menyadarkan balita bahwa perbuatannya menimbulkan efek buruk pada orang lain.
  • Setelah itu tanyakan mengapa anak melakukannya, sekaligus menanyakan pendapat si kecil tentang tayangan yang ditontonnya. Siapa tahu ia keliru menangkap makna. Luruskan kesalahannya, ”Superman adalah manusia super yang dapat terbang, sedangkan kita manusia biasa dan tidak pernah dapat terbang. Kalau memaksa terbang maka akibatnya...”
  • Ajak anak memikirkan efek dari perilakunya terhadap orang lain, benda-benda dan sebagainya, dan apa efeknya bagi dirinya. Jelaskan sesuai tingkat pemahamannya.
  • Sebaiknya ada aturan tentang menyakiti orang lain dan merusak barang. Bicarakan konsekuensi jika ia melakukan hal tersebut dan terapkan setelah disetujui bersama.
  • Pelajari lagi program TV yang membuat anak meniru. Tinjau kembali positif dan negatifnya program tersebut, apakah dapat dipertimbangkan untuk tetap ditonton atau sebaiknya ditiadakan saja dari daftar tontonan anak Anda.
http://www.ayahbunda.co.id/balita-tips/lindungi-anak-dari-bahaya-televisi-

Related Posts:

Para Pecinta Al Quran (PPQ) Tahun 2016 Digelar


Jika di sinetron ada sebuah judul Para Pencari Tuhan, maka di SDIT Wahdatul Ummah Metro ada Para Pecinta Al Quran (PPQ) yang sudah digelar 3 kali ini sejak tahun 2013.
Agenda wajib tahunan ini digelar dengan melaksanakan event perlombaan semua terkait dengan Al Quran yaitu Tartil Quran, Tahfidz Al Quran, Kaligrafi, dan Mewarnai. Alhamdulillah kegiatan ini disupport oleh semua peserta didik SDIT Wahdatul Ummah Metro.
"Kegiatan ini digelar sebagai salah satu rangkaian kegiatan Milad SDIT Wahdatul Ummah Metro yang ke-11 yang rencananya puncaknya akan dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2016 dalam bentuk Pasar Kreasi Siswa  dan Wisuda Hafalan Al Quran." demikian penjelasan kepala SDIT Wahdatul Ummah Metro bapak Sarifuddin, M.Pd.I.


 
Lomba Mewarnai









































Related Posts: