Home » » Relaksasi Mengakrabi Buah Hati

Relaksasi Mengakrabi Buah Hati

Written By Sdit WAHDATUL UMMAH on Jumat, 15 April 2016 | 00.42


Oleh: Miarti
Ayah bunda…! Mungkin kita sama-sama sepakat bahwa hal terbaik yang dibutuhkan anak-anak adalah menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya. Walaupun pada faktanya ayah dan ibu tak bisa dalam waktu 24 jam penuh bersama-sama dengan anak. Namun idealisme untuk bisa memiliki waktu yang cukup luang untuk lebih dekat dengan anak, tentu saja wajib untuk kita miliki. Paling tidak, kita terus berusaha dan berupaya.
Menjadi seorang ibu, baik ibu rumah tangga yang seharian di rumah maupun ibu bekerja, memiliki satu kesamaan dimana keduanya tidak punya banyak waktu untuk bersama dengan anak. Bagi ibu rumah tangga, disibukkan dengan sekian banyak pekerjaan yang seolah tidak ada habis-habisnya, mulai dari menyiapkan sarapan hingga menggosok pakaian. Ibu bekerja demikian pula. Bahkan ada diantara ibu bekerja yang kadang-kadang tak berjumpa dengan anak karena anak sudah tertidur ketika tiba di rumah. Dan dalam persoalan ini, bukan hanya ibu tentu saja. Melainkan ayah pun punya dilematika yang tak jauh berbeda. Baik ayah yang banyak menghabiskan waktu untuk berkarya di rumah maupun ayah yang beraktivitas jauh di luar rumah. Dua-duanya belum tentu memiliki waktu yang tenang dan khusus untuk bersama-sama dengan anak.
Jadi pada intinya, bisa kita tarik sebuah simpulan bahwa hampir setiap orang tua memiliki kesibukan. Sampai pada suatu ketika, terlebih ketika dipicu oleh beban-beban pikiran yang muncul, kesibukan tersebut menjadi sebuah letupan-letupan lelah, bosan, penat, kesal, tidak tentram, tidak tenang, dan sekian banyak perasaan negatif lainnya. Pada akhirnya, letupan-letupan tersebut memercik dan pada anak-anak. Bentuknya pun beragam. Ada yang berupa kemarahan, ngomel-ngomel, penghakiman, bahkan sampai pada tingkat abuse (penyiksaan). Naudzubillaah.
Meluapkan kemarahan kepada buah hati tentu saja sangat disayangkan. Dan kenyataan semacam ini cukup mengerikan, dimana stimulasi-stimulasi negatif seperti berteriak, memperlakukan anak dengan kasar, sadisme, menakut-nakuti anak, dan selalu berganti-ganti pengasuh yang tidak ada jaminan kearifannya, akan membuat sel-sel otak membentuk respon yang salah sehingga kelak anak akan memberikan reaksi terhadap segala hal dalam sikap yang negatif seperti marah dan aksi impulsif yang mengarah ke kekerasan.
Ayah Bunda yang selalu berbahagia. Tentu kita tak ingin membiarkan anak-anak kita menderita dalam waktu sesingkat apapun. Oleh kaena itulah, penting untuk diingat bahwa menjadi orang tua bijaksana itu butuh KETENANGAN. Menjadi orang tua yang mampu membahagiakan anak itu harus terlebih dahulu membahagiakan dirinya. Bukan sebaliknya, sibuk dengan pekerjaan dan persoalan. Jadi, daripada anak harus menjadi korban atas kekesalan kita, Ayah Bunda boleh pertimbangkan beberapa tawaran berikut:
  1. Lupakan
Lupakan perasaan-perasaan yang kurang bersahabat yang membuat kita lelah dan kesal. Bahkan ketika menggosok pakaian itu semakin memicu kita menjadi lelah dan bosan, maka biarkan pakaian-pakaian kusut itu disimpan dan ditutup rapat dalam keranjang. Biarkan dulu untuk sementara waktu. Tak ada sanksi bagi kita hanya karena sehari saja absen dari aktivitas menggosok baju. Biarkan kita benar-benar bahagia. Dan biarkan anak-anak merasa puas berada di samping kita.
  1. Lepaskan
Lepaskan sejenak beragam tugas. Sebanyak apapun dan seberat apapun, kalau bisa tanggalkan dulu. Biarkan pikiran kita tenang. Biarkan otak kita dengan leluasa menyuruh mata, tangan dan jari jemari kita untuk mencandai anak-anak. Biarkan jiwa kita puas memeluknya, tertawa bersamanya, bersenda gurau dan berbagi pengalaman. Bahkan untuk aktivitas memasak sekalipun yang sudah menjadi kewajiban sehari-hari bagi seorang ibu, boleh dilepaskan sejenak untuk memberikan hak kebahagiaan kepada anak. Terlebih apabila memasak dengan segala persoalannya malah memicu ketidaktenangan kita yang kemudian berujung pada spontanitas berupa memarahi anak dan lain-lain, maka tak perlu memasak dulu untuk waktu-waktu tertentu. Atau kita bisa mengaturnya misalnya dengan cara membuat jadwal dimana pada setiap berapa waktu sekali, si ibu puasa memasak. Alternatifnya, boleh membeli atau makan di luar untuk sekadar hiburan.
  1. Terbukalah untuk punya pembantu
Tidak semua orang bisa begitu saja jatuh cinta dengan kehadiran pembantu. Terlebih bagi orang-orang yang perfeksionis dimana semua proses dan hasil pekerjaan benar-benar harus idealis. Bagi siapapun diantara kita yang perfeksionis, alangkah bijak untuk memutuskan mencari pembantu. Logikanya, ketika kita sibuk dengan karier atau tugas-tugas organisasi, dan waktu pun menjadi lebih terbatas, maka biarkan beberapa tugas rumah dilimpahkan kepada pembantu.
Ayah Bunda yang budiman…! Tulisan ini tentu saja bukan sebuah pembenaran bagi para orang tua untuk boleh bermalas-malasan. Melainkan sebuah alternatif ketika kesibukan dengan permasalahan psikis hadir beriringan. Kita tak bisa membiarkan diri kita menghamburkan kemarahan dan kekesalan pada anak. Tetapi kita berusaha untuk sekadar menenangkan diri. Kefokusan pada anak akan hadir deengan sempurna dari orang tua yang mampu berpikir tenang. Yuk mari, cooling down! Semoga bermanfaat.
Alloohu ‘alam bish showaab. Semoga bermanfaat.

Sumber : http://www.al-intima.com/tarbiyatul-aulad/relaksasi-untuk-mengakrabi-buah-hati
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Amar Fatkhalloh
Copyright © 2013. SDIT WAHDATUL UMMAH METRO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SDIT-WU Metro
Proudly powered by Tim IT SDIT Wahdatul Ummah Metro