Home » , , , » Bahaya Memarahi Anak

Bahaya Memarahi Anak

Written By Sdit WAHDATUL UMMAH on Sabtu, 01 Juni 2013 | 17.27


Semalam saya anak saya marah besar. Seharusnya ia sudah tidur, tapi ia bermain lebih lama dengan anak tetangga. Saat dijemput ia marah-marah. Egonya muncul. Dibuatkan susu, malah dotnya dibanting. Memanggil Umi, uminya datang nggak mau. Manggil Abi, abinya datang nggak mau. Bingung apa maunya. Dikasih dotnya yang hangat dibanting lagi ke lantai. Lalu, saya ambil dan saya banting, " Prak!!" Lalu saya diam. Ada boneka, saya tendang " buk". Ada omplong, saya lempar " prang !"

Menyesal, adalah tindakan terakhir. Saya ambil air wudhu dan beristighfar. Diam.seribu bahasa. Lalu berbahayakah memarahi anak ?
Click for View


"Kalau sering memarahi anak di usia tumbuh kembang maka dampaknya bisa dua. Pertama bisa bikin anak pasif karena anak akan memilih lebih baik diam daripada dimarahi. Kedua bisa bikin anak malah melawan," jelas play terapist, Dra Mayke S Tedjasaputra Msi.
Menurut Mayke ketimbang marah, orang tua seharusnya bertindak tegas dengan mengatakan satu kalimat keras saat anak menunjukkan perilaku yang tidak sopan. Misalnya: "Stop!".

"Bukan marah, tapi teguran yang membuat anak berhenti melakukan perbuatan yang berbahaya. Kalau orang tua selalu lemah lembut terus nanti anak jadi lembek," sambung perempuan yang juga dosen psikologi UI ini. "Yang biasa saja saat berkomunikasi dengan anak. Tidak perlu yang sedikit-sedikit bilang 'wah pinter ya ganteng mama'. Berikan pujian selayaknya, tidak perlu berlebihan," tambah Mayke.

Jika Anda meneriaki anak Anda, lalu menyesal setelahnya, ini saran buat Anda.

Saya, suami dan dua anak kami sedang menikmati liburan santai di Hawaii. Kami sedang berkendara di mobil melalui jalan berliku (dan berbahaya) dan menuju Hana. Saat kami sedang melihat betapa indahnya tebing dan pantai, peristiwa itu tiba-tiba terjadi; tanpa alasan jelas, anak laki-laki kami yang berusia 5 tahun melempar botol air ke arah suami.

Botol itu mengenai kaca dan membuat suara keras. Hanya keajaiban yang membuat kami tidak menabrak sesuatu — meski kami sempat kehilangan kendali. Saya dan suami sontak memarahi, berteriak dan mengancam. 

"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu kalau itu amat berbahaya? Kita sedang menikmati liburan, dan kamu melempar botol air tanpa alasan?" Lagi dan lagi kami memarahinya — melebihi apa yang sepantasnya diterima anak TK.

Air mata mulai mengalir di pipi anak saya. Bibirnya gemetar, dan ia mulai menangis. Kami pun menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan, dan saya mencoba melupakan semua kejadian tersebut.

Beberapa minggu kemudian, saya memutar ulang video liburan kami di Hawaii. Ternyata insiden pelemparan botol air itu tidak sengaja terekam kamera (yang saya lupa matikan). Tanpa gambar, saya bisa mendengarkan diri saya sendiri sedang meneriaki anak kami dan mempermalukannya.

Saya mencoba menahan air mata. Bagaimana saya bisa berlaku seperti itu di depan anak saya sendiri, anak saya? Saya mungkin rekaman suara di kamera video, tapi tidak akan pernah bisa menghapus kejadian tersebut dari ingatan.

Suka atau tidak, sebagian orang tua mengamuk di depan anak kesayangan mereka. Kadang kemarahan itu ditujukan pada anak, kadang juga tidak. Tapi itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Amar Fatkhalloh
Copyright © 2013. SDIT WAHDATUL UMMAH METRO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SDIT-WU Metro
Proudly powered by Tim IT SDIT Wahdatul Ummah Metro