Home » » Dampak Memaksa Anak

Dampak Memaksa Anak

Written By Sdit WAHDATUL UMMAH on Jumat, 12 April 2013 | 00.31

Banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi orang-orang sukses. Dengan memaksa anak belajar dengan tekun, namun di lain sisi para orangtua malah memberikan contoh yang tidak baik terhadap kesuksesan anaknya. Hal tadi diutarakan Pimpinan Ganesha Operation (GO) Jamso, dalam acara Parents Meeting bersama orangtua siswa GO bertempat di Deli Room, Hotel Danau Toba Internasional Medan, Sabtu (13/10).

Dihadapan lebih 1000 peserta, Jamso mencontohkan betapa tidak adilnya orangtua dalam mendidik anak. Seorang anak yang baru saja pulang sekolah, bukan malah diberikan intruksi kembali untuk belajar, sementara sang orangtua sedang asyik menonton sinetron di televisi.

"Jangan pernah memaksa anak untuk belajar mengejar sesuatu hal sementara kita sebagai orangtua malah asyik menonton sinetron. Berilar motivasi tanpa memaksa sesuatu kepada anak. Anak kita capek dengan sekolahnya, maka jangan buat mereka tambah capek," ujar Jamso.

Selain itu, dari testimoni-testimoni yang mereka dapatkan dari siswa ketika menjalani bimbingan belajar di GO, tidak sedikit siswa yang sebenarnya tidak ingin masuk pada satu jurusan. Tetapi karena para orangtua memaksakan sang anak masuk jurusan tertentu, mental seorang anak menjadi tertekan.

Ia menyebutkan, sebagai individu memang wajar orangtua berharap sang anak menjadi sukses. Namun jauh lebih pentin, orangtua harusnya memahami potensi anak. "Kita harus paham potensi anak kita. Tanpa kita sadari, banyak anak yang menderita akibat keinginan kita untuk diikuti sang anak. Kasihan mereka," ujarnya.

Selain memberikan seminar motivasi yang ditujukan kepada para siswa GO, Jamso hari itu menampilkan beberapa video mengharukan betapa pentingnya memberi motivasi daripada memberi paksaan. Motivasi ia sebutkan adalah arahan yang mampu membentuk keinginan anak, sementara memaksa, anak akan mengikuti perintaj tersebut namun tidak menjalankannya sepenuh hati.

Seminar yang dimulai sejak pukul 8.30 WIB hingga 11.30 WIB hari itu, dirinya pun memberikan satu fakta bahwa betapa kuatnya arogansi orangtua terhadap anak. Pernah satu ketika seorang siswa yang ditanyai mengaku, bahwa berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah di Universitas Indonesia (UI). Tetapi karena sang ayah menolak dan memaksa anak masuk Universitas Sumatera Utara (USU), akhirnya anak tadi masuk ke USU.

"Anda tidak akan mengetahui betapa besarnya potensi dan target yang dapat dicapai seorang anak jika menentukan pilihannya sendiri. Orang-orang berhasil di muka bumi ini adalah orang-orang yang bebas tanpa ada tekanan. Mereka bisa mendapatkan hal-hal yang lebih besar jauh dari pemikiran kita. Bimbing mereka. Berikan arahan kepada mereka. Namun jangan memaksa," ujarnya lagi.

Menjadi pembicara tunggal, Jamso juga memaparkan, bahwa fakta menunjukkan banyak pula anak-anak yang gagal dalam bidang pendidikan dan karir, itu adalah hal yang biasa. Tidak semua orang bisa langsung sukses di kehidupan ini. Kegagalan adalah pendamping yang membuat seorang bangkit.

"Ingat bapak dan ibu sekalian. Putra dan putri kita bukan lah orang super yang bisa menjadi seseorang yang kita inginkan sekejab mata. Berikan mereka semangat dan mereka akan benar-benar mendapatkan apa yang mereka impikan," ujarnya.

Hari itu, Jamso juga memaparkan pada tahun depan GO menargetkan siswa yang lolos ke perguruan tinggi negeri sebanyak 30 ribu orang. Strategi yang digunakan mereka adalah membentuk suatu metode revolusi belajar, dengan menggabungkan kinerja otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri yang selama ini dominan dipergunakan untuk cara-cara berhitung atau berkaitan dengan angka, maka GO merancang sebuah metode belajar dengan mengaktifkan otak kanan siswa. Otak kanan yang berhubungan dengan gambar, akan bekerja bersama-sama dengan otak kiri mengerjakan suatu soal matematika atau berkaitan dengan angka-angka.

"Metode belajar dengan menggabungkan kedua sistem otak ini sangat potensial. Siswa akan kami ajak menggambarkan suatu model soal menggunakan otak kanan, dan menghubungkan gambaran-gambaran soal tadi mengarah ke suatu angka melalui otak kiri dan menyimpulkan jawabannya," ujarnya lagi.

(irf/tribun-medan.com)
Sumber : http://medan.tribunnews.com/mobile/index.php/2012/10/13/go-parents-meeting-jangan-buat-anak-tersiksa
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Amar Fatkhalloh
Copyright © 2013. SDIT WAHDATUL UMMAH METRO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SDIT-WU Metro
Proudly powered by Tim IT SDIT Wahdatul Ummah Metro